Kekerasan Seksual di Kampus, Nadiem Makarim: Ini Fenomena Gunung Es yang Dahsyat

  • Bagikan
Sumber Gambar: Youtube Deddy Corbuzier dengan judul "DOSEN KOK NAPSUAN‼️ SIKAT!! - Nadiem X Cinta Laura -Deddy Corbuzier Podcast

Nurul.id – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim belakangan mengeluarkan Permendikbud Nomor 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi.

Peraturan ini menuai kontroversi dari beberapa lembaga dan organisasi, salah satunya adalah MUI yang meminta membatalkan atau merevisi peraturan tersebut.

Nadiem Makarim dan artis Cinta Laura kembali diundang ke kanal Podcast #CLOSETHEDOOR milik Deddy Corbuzier.

Dalam podcast tersebut, Nadiem menyatakan kekerasan seksual dilingkungan kampus sudah didengarnya ketika ia menjadi Menteri. Nadiem mengatakan bahwa kasus kekerasan seksual ini seperti fenomena gunung es yang dahsyat.

“Ini situasi yang tadinya waktu saya pertama kali masuk jadi Menteri itu saya sudah mendengar berbagai macam desas-desus mengenai isu kekerasan seksual. Tapi waktu kita korek-korek lebih dalam lagi, itu ternyata fenomena gunung es yang dahsyat, parah banget,” tutur Nadiem seperti dikutip pada Podcast Deddy Corbuzier pada 16 November 2021.

Nadiem melanjutkan, bahwa berdasarkan survei terhadap dosen, 77 persen diantaranya menyatakan bahwa mereka telah melihat kekerasan seksual di dalam kampusnya sendiri. Dan dari 77 persen tersebut, 67 persen kasus kekerasan seksual itu tidak dilaporkan.

“Kita mensurvei 77 persen dosen, ini dosen ya bukan mahasiswa, kita tes dosennya dulu, 77 persen dari dosen yang kita survei mereka bilang telah melihat kekerasan seksual didalam kampusnya sendiri. Dan dari 77 persen itu, 67 persen dari kasus itu (kekerasan seksual) bahkan katanya tidak dilaporkan sama sekali,” pungkas Nadiem.

Cinta Laura menambahkan, bahwa kekerasan seksual terjadi karena pelaku yang tidak bisa mengontrol cara berpikir atau persepsi mereka, bukan karena seseorang yang mengundang perbuatan tidak benar.

“Karena kekerasan seksual terjadi karena pelaku yang tidak bisa mengontrol cara berpikir atau persepsi mereka, bukan seseorang mengundang ‘hey come here ayo lakukan perbuatan yang salah, ngga sama sekali.” Pungkas Cinta sembari memperlihatkan data dari survei di situs Change.org yang dikutip oleh BBC.

Berdasarkan data dari Survei Pelecehan Seksual di Ruang Publik yang dilaksanakan pada 2018 lalu oleh komunitas-komunitas seperti Hollaback! Jakarta, perEMPUan, Lentera Sintas Indonesia, dan Perkumpulan Lintas Feminis Jakarta (JFDG), dan change.org diperoleh data sebagai berikut: mayoritas korban pelecehan tidak mengenakan baju terbuka saat mengalami pelecehan seksual melainkan memakai celana/rok panjang (18%), hijab (17%), dan baju lengan panjang (16%). Pada hasil survei ini pula ditemukan bahwa kasus pelecehan seksual, mayoritas terjadi pada siang hari (35%), sebanyak (25%) terjadi di sore hari, (21%) pada malam hari, dan (17%) di pagi hari.

“Tapi itu terbukti ya, bahwa pakaian terbuka, pakaian tangan panjang, ada hijab, dan sebagainya rok panjang, celana panjang, ternyata kekerasan seksual tetap terjadi. Jadi harus yang dibenarkan adalah fetis anda,” komentar Deddy.

Nadiem melanjutkan, sebelum adanya Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 ini, ia merasa ironis karena alasan korban kekerasan seksual di kampus diam, seringkali diakhiri dengan alasan “damai secara kekeluargaan.”

Menurut Nadiem, upaya damai secara kekeluargaan ini sama saja dengan melanggar azas kekeluargaan itu sendiri, yaitu menjaga anak-anak.

“Damai secara dan ini ironisnya, damai secara kekeluargaan. Ini salah satu kata yang buat saya ironis yang luar biasa karena ini adalah suatu perilaku yang melanggar azas kekeluargaan yang terpenting yaitu melindungi anak-anak kita. Tapi kata itu digunakan untuk mentolelir saja gitu (tindakan kekerasan seksual),” pungkas Nadiem.

Nadiem mengakatan, Permendikbud Nomor 30 ini diharapkan dapat membantu korban kekerasan seksual dilingkungan kampus melaporkan kejadian tersebut. Korban bisa melihat apakah kejadian yang dialaminya termasuk kategori kekerasan seksual.

Kemudian korban dapat mendatangi Satgas yang telah dibentuk di kampus tersebut untuk mengadukan kekerasan seksual yang dialaminya. “Di satgas itu sudah ada tim yang memang kerjanya pagi, siang, malam adalah untuk memproses aduan-aduan seperti itu,” terang Nadiem.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *